Yogyakarta selalu dikenal sebagai kota pendidikan dan kebudayaan yang memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi. Dalam upaya memperluas akses informasi bagi seluruh warganya, PRSI Jogja melakukan sebuah terobosan penting di bidang literasi dengan meluncurkan koleksi buku panduan kesehatan dalam format huruf khusus. Program ini bertujuan untuk memberikan kemandirian informasi bagi masyarakat tunanetra yang selama ini sering mengalami kesulitan dalam mengakses literasi mengenai pola hidup sehat, pencegahan penyakit, hingga prosedur penanganan darurat secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada orang lain untuk membacakannya.
Penggunaan huruf braille dalam materi edukasi kesehatan masih tergolong langka di Indonesia. Sebagian besar informasi kesehatan hanya tersedia dalam bentuk visual atau audio yang terkadang kurang mendalam. Dengan adanya buku fisik yang dapat diraba, penyandang disabilitas netra dapat mempelajari setiap detail informasi dengan kecepatan mereka sendiri. Topik yang diangkat dalam buku-buku ini sangat beragam, mulai dari panduan nutrisi seimbang, pentingnya kebersihan diri, hingga pengenalan obat-obatan dasar. Literasi ini sangat krusial agar mereka memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai tubuh mereka sendiri dan bagaimana cara menjaganya tetap bugar.
Peluncuran program ini di wilayah Jogja mendapatkan sambutan hangat dari berbagai organisasi disabilitas. PRSI menyadari bahwa hak atas informasi adalah bagian dari hak asasi manusia yang tidak boleh dibatasi oleh kondisi fisik seseorang. Dalam proses penyusunannya, tim pengembang melibatkan para ahli bahasa dan komunitas tunanetra untuk memastikan terminologi yang digunakan mudah dipahami dan struktur hurufnya dicetak dengan kualitas yang tajam agar nyaman dibaca. Keakuratan informasi medis dalam format braille ini sangat dijaga agar tidak terjadi salah tafsir yang bisa berakibat fatal pada tindakan kesehatan yang diambil oleh pembaca.
Selain distribusi buku fisik, program ini juga menjadi ajang kampanye mengenai pentingnya literasi kesehatan inklusif di instansi pemerintah dan swasta lainnya. PRSI Jogja berharap langkah ini dapat memicu perpustakaan daerah, rumah sakit, dan puskesmas untuk menyediakan pojok baca yang ramah bagi netra. Aksesibilitas informasi adalah pintu gerbang menuju masyarakat yang lebih sehat dan cerdas secara merata. Jika seorang tunanetra mampu memahami cara mendeteksi gejala awal sebuah penyakit secara mandiri melalui buku panduan ini, maka angka keterlambatan penanganan medis di kalangan difabel dapat ditekan secara signifikan.
