Yogyakarta selalu memiliki cara yang magis untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Salah satu harta karun yang masih bertahan dan menjadi denyut nadi kehidupan masyarakatnya adalah keberadaan umbul atau mata air alami yang tersebar di berbagai sudut wilayah. Menyadari nilai historis dan ekologis yang tak ternilai ini, muncul sebuah gerakan untuk bernostalgia di umbul yang dipelopori oleh para penggiat olahraga air. Inisiatif ini bukan sekadar ajang berenang biasa, melainkan sebuah kampanye besar untuk mengembalikan kejayaan pemandian-pemandian kuno yang telah menjadi bagian dari identitas kultural masyarakat Jawa selama berabad-abad.
Melalui program yang digagas oleh PRSI Jogja, masyarakat diajak untuk melihat kembali fungsi umbul bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi sebagai pusat pelestarian air dan budaya. Seiring dengan modernisasi, banyak masyarakat yang mulai beralih ke kolam renang modern yang penuh dengan klorin, sementara pemandian alami yang jernih dan sarat nilai sejarah seringkali terabaikan. Dengan mengusung konsep lestarikan pemandian kuno, komunitas olahraga renang di Yogyakarta berupaya menghidupkan kembali minat generasi muda untuk merasakan sensasi berenang di air pegunungan yang murni, sembari mempelajari sejarah di balik bangunan-bangunan batu yang memagari mata air tersebut.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus utama dalam gerakan ini adalah umbul-umbul yang memiliki arsitektur klasik peninggalan era kerajaan atau masa kolonial. Di tempat-tempat seperti ini, berenang menjadi sebuah pengalaman spiritual yang menenangkan. Kejernihan air yang berasal langsung dari tanah memberikan kesegaran yang tidak bisa ditemukan di kolam buatan. PRSI Jogja secara rutin mengadakan sesi latihan bersama di lokasi-lokasi ini untuk menunjukkan bahwa teknik renang prestasi tetap bisa dilakukan di media alami. Hal ini juga menjadi pengingat bagi pengelola tempat wisata agar tetap menjaga keaslian struktur bangunan dan kualitas air demi keberlanjutan ekosistem lokal.
Dampak ekonomi dari gerakan bernostalgia di umbul ini sangat terasa bagi masyarakat desa di sekitar lokasi pemandian. Dengan meningkatnya kunjungan para pecinta olahraga renang, warung-warung lokal dan pengrajin cinderamata mendapatkan peluang baru untuk berkembang. Namun, pengurus komunitas tetap menekankan pentingnya pariwisata yang bertanggung jawab. Pengunjung diajak untuk tidak hanya menikmati air, tetapi juga ikut menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah atau menggunakan bahan kimia yang dapat merusak kualitas mata air. Inilah esensi dari upaya lestarikan pemandian kuno, yaitu pemanfaatan yang seimbang antara kepentingan manusia dan kelestarian alam.
